July 21, 2008Juwono SudarsonoJuly 17, 2008Rudi M. harahapSebuah Paradox Anggaran Berbasis Kinerja
Di kantor saya, Pak Sarjono dari Jogjakarta memposting sebuah tulisan orisinal di Intranet kami yang mengundang banyak komentar. Anda bisa juga menikmati case study ini. Jangan lupa, kalau akan digunakan, ungkapkan sumbernya.
GUGATAN SEORANG OFFICE BOY (OB) TERHADAP ANGGARAN BERBASIS KINERJA Pak Adam, seorang akuntan senior pada Pewakilan BPKP Provinsi Jawa Tengah, menerima keluhan dari Dwi, seorang Office Boy (OB) di kantor yang sama. Si-OB merasa diperlakukan secara tidak adil oleh Pak Muji, seorang Ketua Tim yang baru ditempatkan pada bidang APD. “Pak Adam, saya merasa diperlakukan tidak adil. Saya dirugikan dengan penerapan anggaran berbasis kinerja”. “Loh, kok bisa gitu? Gimana ceritanya?, tanya Pak Adam. Kemudian si OB pun bercerita : Begini, pak, saya diminta oleh Pak Muji untuk membeli tiket Kereta Api Kamandanu Jurusan Semarang-Jakarta untuk keberangkatan hari Minggu, 13 Juli 2008 pukul 21.00 WIB. Pak Muji ada tugas mendadak untuk menghadiri Rapat di Kantor BPKP Pusat pada hari Senin, 14 Juli 2008. “Mas Dwi, tolong saya dibelikan tiket Kereta Api Kamandanu Jurusan Semarang-Jakarta untuk keberangkatan hari Minggu, 13 Juli 2008 pukul 21.00 WIB. Saya minta posisi tempat duduk agak di tengah, jangan di belakang”., kata Pak Muji. “Ini uangnya Rp 300 ribu. Harga tiketnya Rp 275 ribu, buat transport PP dari kantor ke stasiun 10 ribu, trus buat kamu tak kasih uang rokok 15 ribu”, tambahnya. “Ya pak, habis sholat jumlat nanti saya langsung berangkat”, jawab Dwi sambil menerima uang dari Pak Muji. Usai sholat Jum’at, si-OB pun segera berangkat ke Stasiun Tawang naik bus kota. Sesampainya di Stasiun Tawang, ternyata sudah banyak orang yang antri untuk membeli tiket. Kebetulan minggu ini adalah minggu terakhir liburan sekolah, jadi penumpang yang ke Jakarta juga lumayan banyak. Melihat situasi ini, si-OB pun cepat-cepat antri di depan loket. Saat itu di papan informasi terlihat sisa kursi yang tersedia tinggal 20 tempat duduk, sementara jumlah calon pembeli yang berada dalam antrian sekitar 15 orang. Si-OB pun bergabung dalam antrian di depan loket. Dia pun merasa yakin bisa mendapatkan tiket KA sesuai pesanan Pak Muji. Lumayan nih, dapat tambahan 15 ribu, katanya dalam hati. Setelah menunggu beberapa lama, tinggal 3 orang yang masih antri, tiba-tiba petugas informasi PT. KAI mengumumkan bahwa tiket KA Kamandanu untuk keberangkatan hari Minggu, 13 Juli 2008 telah habis. PT. KAI tidak melayani penjualan tiket tanpa tempat duduk. Mendengar hal ini, si-OB pun penasaran dan menanyakan kepada petugas loket. “Pak, tiket Kamandanu untuk hari Minggu, 13 Juli 2008 sudah habis Pak? Kan barusan masih ada 20 tempat duduk, sementara yang beli disini cuma 15-an orang dan belinya juga gak ada yang dobel. Yang lainnya kemana pak?”. Dengan sigap petugas loket pun menjawab, “Betul pak, tiketnya memang sudah habis terjual. Kita pake system on-line, jadi dari lain kota misalnya Pekalongan atau Tegal pun bisa langsung beli. Jadi bisa aja tadi sisa tempat duduk 20 kursi, sementara yang beli disini cuma 15, yang lain dibeli di loket online yang lainnya.” Mendengar jawaban ini si-OB pun hanya bisa pasrah. “Waduh gimana nih? Ntar pasti bakalan diomelin sama pak Muji nih!”, kata si-OB. “Gak papa lah diomelin, yang penting aku kan bakalan dapat tambahan 15 ribu”, katanya. Kemudian bergegaslah si-OB ini kembali ke kantor. Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit dengan bus kota, sampailah si-OB ini di kantor Perwakilan BPKP Prov. Jateng. Kemudian dia pun segera menemui Pak Muji. Kata si-OB : “Pak Muji, mohon maaf tiketnya sudah habis. Tadi saya udah ngantri tapi tetep gak kebagian tiket. Lagi musim liburan pak, jadi penumpang KA membludak. Ini uang bapak saya kembalikan Rp 250 ribu”. Pak Muji pun segera menjawab : ”Lho, kok cuma Rp 250 ribu? Tadi kan aku ngasih uang Rp 300 ribu? Tiketnya kan gak dapet, ya harus dikembalikan semua dong!”. Si-OB pun bingung dengan sikap pak Muji. “Lho, kok gitu pak? Saya kan udah capek-capek ke Stasiun, pake ongkos bus juga. Mosok usaha saya gak dianggap?”, kata si-OB. Pak Muji pun menjawab : “Dwi, sekarang ini jamannya anggaran berbasis kinerja. Segala sesuatu diukur dari kinerjanya. Ngukurnya paling enggak dari output, dan kalau bisa dari outcome”. Dalam kasus ini, output dari kegiatanmu mestinya ya Tiket KA yang kupesan. Outcomenya, saya bisa ke Jakarta menghadiri rapat di Kantor BPKP Pusat. Jadi dalam kasus ini, kinerjamu saya anggap nol, karena gak dapat tiket yang kupesan. Konsekuensinya yang uang yang tadi aku kasihkan ke kamu harus dikembalikan semua.” Mendengar jawaban Pak Muji, si-OB pun jadi tambah bingung, kok jadi gini sih? Saya udah capek-capek ke stasiun, gak dapat uang malah disuruh mengganti uang yang udah telanjur dipake buat ongkos bus kota. Uang rokok yang dijanjikan pun diminta lagi. Gimana nih? Setelah terdiam beberapa saat, si-OB pun teringat ucapan Pak Adam saat khotbah jum’at tadi. Pak Adam mengatakan bahwa Allah SWT menilai seseorang dari ikhtiar (usaha) yang dilakukan untuk mencapai tujuannya, jadi bukan semata-mata dari hasil yang dicapainya. Ibaratnya percuma saja seorang anak SMA lulus UAN dengan nilai memuaskan, apabila si anak ini melakukan kecurangan dalam ujiannya. Allah lebih menghargai anak lain yang mengerjakan ujian dengan jujur, meskipun lulus UAN dengan nilai pas-pasan. Teringat hal itu, si-OB pun mengatakan : “Pak Muji, saya tidak sependapat dengan bapak. Saya hanya mau mengembalikan uang Rp 250 ribu. Yang 10 ribu kan udah dipake buat ongkos bus, dan yang 15 ribu kan hak atas jerih payah saya karena saya udah berusaha untuk ke stasiun dan mengantri di loket, meskipun akhirnya saya gak dapat tiket. Mosok bapak gak menghargai usaha saya?”. Setelah beberapa kali beradu alasan, rupanya diantara pak Muji dan si-OB gak ada titik temu. Mereka pun sepakat untuk meminta pendapat pihak lain yang dianggap lebih kompeten. Si-OB mengusulkan untuk meminta pendapat Pak Adam, karena beliau merupakan akuntan yang cukup senior sekaligus seorang ustad yang sering mengisi khotbah di Masjid kantor. Pak Muji pun menyetujui usulan si-OB dan kemudian keduanya segera menemui pak Adam. Setelah mendengar cerita dan alasan dari kedua pihak, Pak Adam pun berusaha berpikir keras untuk memberikan pendapat terbaiknya untuk mengatasi perbedaan pendapat antar Pak Muji dan si-OB. Sebagai seorang akuntan senior, dia paham bahwa dalam anggaran berbasis kinerja, kinerja suatu kegiatan setidaknya diukur dari output dari kegiatan itu. Dalam hal ini, dia sependapat dengan pak Muji bahwa output dari kegiatan yang dilakukan oleh si-OB adalah selembar tiket KA sesuai pesanan pak Muji. Kalau gak ada tiket, berarti outputnya gak ada. Jadi bisa dibilang kegiatan yang dilakukan adalah gagal alias kinerjanya nol. Kalau outputnya gak ada, outcomenya pun pasti gak akan tercapai, jadi jelas memang kinerja kegiatan yang dilakukan adalah nol. Disisi lain, Pak Adam juga masih jelas teringat ucapannya saat khotbah jumat siang ini : “Allah menilai seseorang bukan dari apa yang dicapainya, tetapi justru dari ikhtiarnya dalam mencapai tujuannya. Ajaran agama Islam sangat menghargai “proses”, bukan “hasil akhir”. Sebagai contoh, nilai memuaskan dalam hasil UAN yang diperolah seorang anak, gak ada artinya jika dalam mengerjakan UAN, si anak tersebut melakukan kecurangan (misalnya menyontek). Allah lebih menghargai nilai UAN yang pas-pasan tetapi diperoleh dengan cara yang jujur. Pak Adam pun sangat yakin bahwa ajaran agama lain pun akan mengajarkan hal yang sama. Setelah terdiam beberapa saat, Pak Adam justru merasakan adanya pertentangan dalam dirinya. Dalam benak Pak Adam justru muncul beberapa pertanyaan : 1. Adakah yang salah dengan anggaran berbasis kinerja? Kenapa variable “proses” luput dari penilaian? 2. Apakah anggaran berbasis kinerja tidak sejalan dengan ajaran agama? 3. Apa pendapat yang harus saya berikan terkait kasus pak Muji dan si-OB? Setelah berpikir cukup lama, Pak Adam pun belum bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan. Adakah diantara para milister berkenan untuk membantu Pak Adam? by Rudy M. Harahap (noreply@blogger.com) at July 17, 2008 02:28 AM July 15, 2008Eddy SatriyaAcungan Jempol Untuk PSB-Online.
Oleh : Eddy Satriya
(hanya untuk online publishing)
Keberhasilan di Republik ini memang sulit untuk didesiminasikan. Sebaliknya, permasalahan dalam berbagai bentuk telah menjelma menjadi momok menakutkan dan selalu diperbincangkan sehingga tanpa disadari secara mudah dikomunikasikan kepada setiap orang.
Kebebasan pers telah banyak dimanfaatkan, tetapi tidak untuk berita yang menyenangkan dan
by E Satriya (noreply@blogger.com) at July 15, 2008 03:15 PM July 07, 2008Bambang Dwi AnggonoMENGAPA INTEROPERABILITAS?
Proses pengembangan e-government di Indonesia memang cukup menarik. Meskipun sudah berjalan lebih dari 15 tahun, namun strata mapan masih juga sulit diwujudkan. Sebagian besar pejabat strategis negeri ini masih melihat e-government sebagai sesuatu yang terpisah dari pemerintahan umum dan layanan publik yang sebenarnya mereka geluti selama ini. Tak heran apabila e-government di kalangan internal
July 01, 2008Rudi M. harahapPak Supir Presiden RI![]() Pada Jumat minggu lalu, kami mengorganisasikan stand BPKP di acara Pameran Inovasi Pelayanan Publik yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Kepolisian Negara RI. Acara ini dibuka oleh Presiden RI, Bapak SBY. Ketika Presiden RI sedang menyampaikan pengarahan, stand kami yang kebetulan berada di paling depan, dekat pintu masuk, sempat dikunjungi oleh supir pribadi SBY yang berpangkat sersan marinir. Menurut ceritanya, ke mana-mana SBY pergi, beliau harus selalu mendampingi. Termasuk kalau ke luar negeri. Ternyata, supir SBY ini sangat cerdas. Bahkan, beliau ini sempat juga berinteraksi langsung dengan demo sistem Portal PASS yang kami simpan di notebook. Beliau mencoba langsung sistem tersebut. Menurut ceritanya, ternyata beliau ini pernah juga menjadi supir Habibie dan Megawati. Bagi Anda yang belum pernah melihat fotonya, Anda dapat melihatnya dalam blog ini.
by Rudy M. Harahap (noreply@blogger.com) at July 01, 2008 08:01 PM June 26, 2008Rudi M. harahapKonflik Kepentingan
Ketika sedang melakukan asistensi ke sebuah instansi pemerintah, saya menemukan ada seorang ibu yang kebetulan istri sekjen sebuah departemen ternyata juga merangkap sebagai salah satu konsultan di departemen tersebut. Rupanya, persoalan sang ibu menjadi konsultan di organisasi yang suaminya menjadi sekjen ini telah juga menjadi rumor di internal organisasi tersebut.
Anehnya, pejabat tingkat menengah yang merekrut ibu tadi tidak merasa bersalah. Menurutnya, sah-sah saja jika dia merekrut ibu tadi. Toch, dia merekrutnya karena keahliannya. Ibu tadi juga dosen di sebuah perguruan tinggi. Ini memang suatu topik yang dapat menyulitkan. Karena itu, saya mengusulkan kepada pejabat tingkat menengah tadi agar tidak menjadi masalah dan menyulitkan posisi pak sekjen di kemudian hari, sebaiknya ibu tadi tidak direkrut sebagai konsultan, tapi diminta sebagai nara sumber yang dapat diundang sesuai keperluan. Untuk itu, ibu tadi bisa dibayar berdasarkan jam bekerjanya sesuai dengan kebutuhan tadi, tidak dibayar bulanan sebagai konsultan. Memang, agak susah meyakinkan masyarakat kita, terutama para pejabatnya, bahwa dalam hal tertentu pelanggaran itu tidak hanya dilihat dari adanya korupsi atau tidak. Konflik kepentingan (conflict of interest) di beberapa negara justru juga adalah pelanggaran. Konflik kepentingan ini sering terkena pada pejabat penting dan sering menjadi isu nasional yang diperbincangkan di media. Tentu saja, ketika konflik kepentingan muncul, semua orang ingin membaca dan mendengarnya, seperti halnya mendengar gosil selebriti. Karena itu, kita sebaiknya sejak awal berusaha untuk menghindarkan konflik kepentingan ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Memang, di beberapa negara seperti Australia, konflik kepentingan masih dimungkinkan terjadi. Namun, seseorang yang terlibat konflik kepentingan harus menyatakan di awal adanya konflik kepentingan tersebut. Seseorang bisa dianggap melakukan pelanggaran jika di kemudian hari dia terbukti memiliki konflik kepentingan dan ternyata tidak pernah mengungkapkannya sejak awa. Dalam pengambilan keputusan stratejik, orang yang memiliki konflik kepentingan pun dilarang untuk terlibat lebih jauh. Dalam praktiknya, orang tadi harus menyatakan adanya konflik kepentingan dan mundur dari rapat yang terkait dengan pengambilan keputusan di mana dia mengalami konflik kepentingan. Jl. Pramuka, menjelang Maghrib, 26 Juni 2008 by Rudy M. Harahap (noreply@blogger.com) at June 26, 2008 03:45 AM June 24, 2008Eddy SatriyaMenyelaraskan Regulasi Pemerintah: "Bedah Kasus Industri Telekomunikasi di Indonesia"
Bahan ini adalah Materi Diskusi di Bale-9; Gedung Jurnas, Jalan Pemuda 34, Jakarta, 24 Juni 2008.
Selengkapnya klik disini............!
by E Satriya (noreply@blogger.com) at June 24, 2008 12:36 AM June 23, 2008Eddy SatriyaINPRES 5/2008 tentang Fokus Program Ekonomi 2008-2009
Anda memerlukan narasi beserta lampiran Inpres 5/ 2008 silakan klik disini.
Semoga berguna,
Wassalam,
Eddy
by E Satriya (noreply@blogger.com) at June 23, 2008 09:46 PM June 22, 2008Rudi M. harahapJune 19, 2008Rudi M. harahapPuisi: Bangsa Porak Poranda
Oleh Taufiq Ismail
Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda, terbungkuk dibebani hutang dan merayap melata sengsara di dunia. Penganggur 40 juta orang, anak-anak tak bisa bersekolah 11 juta murid, pecandu narkoba 6 juta anak muda, pengungsi perang saudara 1 juta orang, VCD koitus beredar 20 juta keping, kriminalitas merebat disetiap tikungan jalan dan beban hutang di bahu 1600 trilyun rupiahnya. Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol diruang tamu Kantor Pegadaian Jagat Raya, dan dipunggung kita dicap sablon besar-besar: Tahanan IMF dan Penunggak Bank Dunia. Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu, menjual tenaga dengan upah paling murah sejagat raya. Ketika TKW-TKI itu pergi lihatlah mereka bersukacita antri penuh harapan dan angan-angan di pelabuhan dan bandara, ketika pulang lihat mereka berdukacita karena majikan mungkir tidak membayar gaji, banyak yang disiksa malah diperkosa dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri diperas pula. Negeri kita tidak merdeka lagi, kita sudah jadi negeri jajahan kembali. Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku. Dulu penjajah kita satu negara, kini penjajah multi kolonialis banyak bangsa. Mereka berdasi sutra, ramah-tamah luar biasa dan banyak senyumnya. Makin banyak kita meminjam uang, makin gembira karena leher kita makin mudah dipatahkannya. Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali. Berbagai format perindustrian, sangat menjanjikan, begitu laporan penelitian. Nomor satu paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi, dari depannya penuh janji, adalah industri korupsi. Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram, ibarat membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam. Bergerak ke kiri ketabrak copet, bergerak ke kanan kesenggol jambret, jalan di depan dikuasai maling, jalan di belakang penuh tukang peras, yang di atas tukang tindas. Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia, sudah untung. Lihatlah para maling itu kini mencuri secara berjamaah. Mereka bersaf-saf berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu'. Begitu rapatnya mereka berdiri susah engkau menembusnya. Begitu sistematiknya prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya. Begitu khusyu'nya, engkau kira mereka beribadah. Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling yang istiqamah? Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya, membentang dari depan sampai ke belakang, melimpah dari atas sampai ke bawah, tambah merambah panjang deretan saf jamaah. Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan lintas jenis kelamin. Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah? Bagaimana menangkap maling yang prosedur pencuriannya malah dilindungi dari atas sampai ke bawah? Dan yang melindungi mereka, ternyata, bagian juga dari yang pegang senjata dan yang memerintah. Bagaimana ini? Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up Operation), tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim piatu dan sekolahan. Kaki kiri jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana kemari, kaki kanannya bersedekah, pergi umrah dan naik haji. Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran, otak kanannya berzakat harta, bertaubat nasuha dan memohon ampunan Tuhan. Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah? Jamaahnya kukuh seperti diding keraton, tak mempan dihantam gempa dan banjir bandang, malahan mereka juru tafsir peraturan dan merancang undang-undang, penegak hukum sekaligus penggoyang hukum, berfungsi bergantian. Bagaimana caranya memroses hukum maling-maling yang jumlahnya ratusan ribu, barangkali sekitar satu juta orang ini, cukup jadi sebuah negara mini, meliputi mereka yang pegang kendali perintah, eksekutif, legislatif, yudikatif dan dunia bisnis, yang pegang pestol dan mengendalikan meriam, yang berjas dan berdasi. Bagaimana caranya? Mau diperiksa dan diusut secara hukum? Mau didudukkan di kursi tertuduh sidang pengadilan? Mau didatangkan saksi-saksi yang bebas dari ancaman? Hakim dan jaksa yang bersih dari penyuapan? Percuma Seratus tahun pengadilan, setiap hari 8 jam dijadwalkan Insya Allah tak akan terselesaikan. Jadi, saudaraku, bagaimana caranya? Bagaimana caranya supaya mereka mau dibujuk, dibujuk, dibujuk agar bersedia mengembalikan jarahan yang berpuluh tahun dan turun-temurun sudah mereka kumpulkan. Kita doakan Allah membuka hati mereka, terutama karena terbanyak dari mereka orang yang shalat juga, orang yang berpuasa juga, orang yang berhaji juga. Kita bujuk baik-baik dan kita doakan mereka. Celakanya, jika di antara jamaah maling itu ada keluarga kita, ada hubungan darah atau teman sekolah, maka kita cenderung tutup mata, tak sampai hati menegurnya. Celakanya, bila di antara jamaah maling itu ada orang partai kita, orang seagama atau sedaerah, Kita cenderung menutup-nutupi fakta, lalu dimakruh-makruhkan dan diam-diam berharap semoga kita mendapatkan cipratan harta tanpa ketahuan. Maling-maling ini adalah kawanan anai-anai dan rayap sejati. Dan lihat kini jendela dan pintu Rumah Indonesia dimakan rayap. Kayu kosen, tiang,kasau, jeriau rumah Indonesia dimakan anai-anai. Dinding dan langit-langit, lantai rumah Indonesia digerogoti rayap. Tempat tidur dan lemari, meja kursi dan sofa, televisi rumah Indonesia dijarah anai-anai. Pagar pekarangan, bahkan fondasi dan atap rumah Indonesia sudah mulai habis dikunyah-kunyah rayap. Rumah Indonesia menunggu waktu, masa rubuhnya yang sempurna. Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya. Tiba-tiba datang serombongan anak muda dari kampung sekitar. "Ini dia rayapnya! Ini dia Anai-anainya! " teriak mereka. "Bukan. Saya bukan Rayap, bukan!" bantahku. Mereka berteriak terus dan mendekatiku dengan sikap mengancam. Aku melarikan diri kencang-kencang. Mereka mengejarkan lebih kenjang lagi. Mereka menangkapku. "Ambil bensin!" teriak seseorang. "Bakar Rayap," teriak mereka bersama. Bensin berserakan dituangkan ke kepala dan badanku. Seseorang memantik korek api. Aku dibakar. Bau kawanan rayap hangus. Membubung Ke udara. Sumber: stan@yahoogroups.com by Rudy M. Harahap (noreply@blogger.com) at June 19, 2008 10:57 PM |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||






